Melepas Kepenatan Jakarta di Bukittinggi

Tiga dari empat hari kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Ke Provinsi Sumatra Barat dihabiskannya di Kota Bukittinggi. Bahkan, Presiden melakukan aktivitas kepresidenan dan berkantor di Istana Bung Hatta di Bukittinggi.

Kota dengan panorama alam yang menakjubkan itu tidak hanya penting bagi SBY, tetapi juga penting bagi perjalanan sejarah Republik ini. " Bukittinggi kota yang indah, penduduknya ramah dan taat beribadah," begitulah penggalan kalimat yang selalu diucapkan Presiden SBY saat mengawali sambutannya selama di Bukittinggi.

Kegiatan Presiden tampak lebih santai dan banyak jalan-jaloan di daerah Bukittinggi. Misalnya ketika mengawali Rabu (30 Oktober 2013), Presiden didampingi Ibu Ani Yudhoyono berolahraga sekaligus menyapa warga yang terkenal dengan jam gadang itu.

Pada pukul 06:30 wib, Presiden dan rombongan memulai jalan pagi dari Istana Bung Hatta menuju lapangan Kodim 0304/ Agam. Setelah sempat memutari lintasan lari satu kali, Presiden kemudian menyaksikan pertandingan bola voli tim dari Jakarta melawan tim Muspida Bukittinggi.

Seusai, menyaksikan pertandingan, Presiden dan rombongan meninjai Ngarai Sianok di pusat Kota Bukittinggi. Tentu saja, bentangan sungai pegunungan yang dikelilingi tebing tinggi itu tak luput dari bidikan Ibu Ani.

Tak hanya sebuah nagari yang indah, Presiden menyebutkan Bukittinggi sebagai tempat lahirnya para pemikir. Seorang putra terbaik bangsa, Hatta, dan pejuang Haji Agus Salim, merupakan sedikit diantara tokoh bangsa dan ulama besar yang dilahirkan di kota itu.

Diawal-awal pemerintahan Presiden Soekarno (1948), Bukittinggi sempat menjadi Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah mencatat Bung Karno pernah memerintahkan Mr Sjafroedin Prawiranegara memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari Bukittinggi ketika Yogyakarta jatuh ke tangan penjajah Belanda.

Ranah Minang keselurahan banyak melahirkan para tokoh besar nasional. Presiden menyempatkan diri bersilaturahmi dengan keluarga tokoh besar nasional.

" Saya bersilaturahmi dengan keluarga Bung Hatta, keluarga Sjafroedin Prawiranegara, keluarga Buya Hamka, keluarga Pak Nasir, tanggal 29 Oktober 2013," kata Pak SBY saat  menyapa ribuan masyarakat Kecamatan Batu Sangkat, Kabupaten Tanahg Darat, Sumatra Barat.

Mungkin inilah yang sedang dicari Presiden di Bukittinggi, setidaknya untuk sejenak melepaskan diri dari kepenatan selama di Jakarta dan menguatkan semangatnya untuk menyelesaikan pemerintahan 1,5 tahun ke depan.

Sebab, SBY sering menyampaikan bahwa sambutan mengembalikan semangatnya untuk memimpin negeri ini. Selamat tinggal Bukittinggi, indah dan ramah.

Sumber Media Cetak : Media Indonesia, 31 Oktober 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar