Muhammad Jamil Jambek Sang Pembaharu Tanah Minang

Ialah sang pembaharu Islam di Sumatra Barat. Seorang pakar ahli falak, penemu pertama waktu imsyak di kala Ramadhan. Inyiak Jambek, demikian orang memanggil Syekh Muhammad Jamil Jambek. Dia merupakan seorang ulama ternama asal tanah Minangkabau Berbeda dengan ulama nusantara kebanyakan yang lahir dari kalangan ulama, Muhammad Jambek justru lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya merupakan kepala daerah Kurai, Bukittinggi, Saleh Datuk Maleka.

Muhammad Jamil Jambek (Inyiak Jambek)
Syekh lahir pada 1863 dengan nama Muhammad Jamil. Kisah kecilnya tak banyak diketahui. Namun, beberapa sumber menyebutkan, Jamil kecil sangat nakal. Ia memiliki sikap yang sangat buruk. Hingga di usia remaja, Jamil belajar pada seorang ulama setempat dan menemukan dirinya tertarik pada pembelajaran Islam.

Dibawah bimbingan ulama Minang, Tuanku Kayo Mandiangin, Syekh Jamil mengawali pendidikan agamaya. Kemudian saat usia 22 tahun, sang ayah mengajak Jamil pergi ke tanah Suci. Di Mekkah, syekh pun mendalami syariat Islam. Ia juga mempelajari ilmu tarekat. Sebuah ijazah tarekat Naqsyabandiyah Khadiyah sempat didapatkannya.

Namun rupanya, syekh lebih tertarik dengan ilmu falak. Ia pun lebih terkenal sebagai ulama Falak ketimbang sebagai ulama tarekat. Di kemudian hari saat berdakwah di Tanah Air, syekh justru mengkritik ilmu tarekat. Pandangannya berubah, ia menentang ilmu tersebut. Syekh bahkan menulis sebuah buku yang berisi kritikan akan Tarekat Naqsyabandiyah. Buku yang ditulis dalam dua jilid itu menjelaskan kandungan tarekat yang dipenuhhi takhayul dan khurafat yang justru bertentangan dengan syariat Islam.

Syekh kemudian lebih dikenal dengan keahliannya dalam falak. Kepandaian syekh dalam ilmu falak bahkan dikenal hingga penjuru Mekkah. Tak sedikit murid yang mendatanginya untuk belajar ilmu perbintangan tersebut.
Hanya saja, syekh cuma mengajarkan para thalibul dari tanah kelahirannya. Diantara muridnya yakni Syek Abbas Abdullah dan Ibrahim Musa Parabek. Keduanya pun merupakan seorang ulama ternama asal Minang.

Setelah cukup lama tingal di Mekkah, Inyiak Jambek kemudian pulang ke Tanah Air. Ia pun berdakwah di kampungnya. Cara dakwahnya pun berbeda dengan ulama yang lain kala itu. Syekh lebih suka mengumpulkan massa kemudian mengisi tabligh di hadapan mereka.
Tak lama, syekh kemudian mendirikan beberapa mesjid. Di surau itulah ia kemudian mengisi tablighnya. Jika masjid lain banyak mengadakan acara pujian dan shalawatan, tidak dengan masjid Syekh Jamil. Ia memilih mengisi ceramah sebagai peramai masjid. Ia pun lebih suka menggunakan bahasa Melayu saat mengisi ceramah. Alhasil, dakwahnya tersebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Syeikh Jamil banyak membawa pembaharuan Islam di tanah Minang. Caranya berdakwah berbeda dengan ulama pada umumnya. Ia juga mementingkan ajaran Tauhid ketimbang menghormati adat. Namanya pun kemudian dikenal di Sumatra Barat.
Syeikh membawa pemikiran baru Islam dengan menolak tasawuf dan tarekat. Ia pun kemudian sempat dituding menentang adat istiadat Minangkabau yang telah berusia tua.

Padahal Syeikh tak menghormati adat selama tak berseberangan dengan Islam. Syeikh pun kemudian meluruskan hal tersebut dengan mendirikan sebuah organisasi yang menghormati adat istiadat Minang.
Persatuan Kebangsaan Adat Alam Minangkabau di tahun 1939. Tak hanya berkiprah dalam pendidikan Islam, syeikh juga aktif dalam menentang penjajah. Bersama seorang kawan karibnya, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Jamil pun kemudian mendirikan Majelis Islam Tinggi (MTI). Syekh juga mendirikan Barisan Sabillah, dua perkumpulan itu pun menjadi yang terdepan dalam mengusir penjajah.

Setelah banyak kiprah yang ia torehkan, Syeikh Jamil menghembuskan napas terakhir pada 30 Desember 1947. Banyak karya yang ia tulis. Banyak pula murid yang mendapatkan manfaat ilmunya. Pembaharuan Islam yang ia bawa ke tanah Minang pun membawa dampak yang baik bagi perkembangan dakwah Islam.


Sumber Media Cetak : Republika, 3 November 2013.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar