Tonggak Penjaga Bunda Kanduang

Rumah gadang ialah penanda karakter masyarakat Minang yang komunal dan setia pada adat. Mereka merayakannya dalam prosesi Batagak Tonggak Tuo. PULUHAN lelaki diiringi hentakan aba-aba ye ye ye ya ya ho menggenggam erat tali yang mengikat sebatang pohon jua, sejenis pohon ulin, yang baru saja ditebang di rimba Sumpur.

Mereka menggotongnya sejauh satu kilometer hingga ke lahan tempat berdirinya rumah gadang. Kegiatan menggotong kayu secara komunal itu merupakan bagian dari prosesi Batagak Tonggak Tuo atau mendirikan tonggak inti Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau.

Batagak Tonggak Tuo itu terjadi di Jorong Nagari, Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, pekan lalu.

Kegiatan ini dilakukan setelah sebelumnya, Sabtu (21/4), kayu ditebang di hutan sekitar. Selanjutnya, kayu dibentuk menjadi tonggak atau tiang melalui pahatan oleh tukang tuo atau kepala tukang rumah gadang. Proses ini dinamakan mancacah tonggak. Bagian pohon yang disebut persendian, dipahat membetuk rongga. Gunanya, menjadi ruang bagi pasak atau ikatan dengan komponen konstruksi.

Batagak Tonggak Tuo sangat sakral dalam pendirian rumah gadang. Kayu ditebang dan tonggak tuo dipancang pada waktu yang dianggap baik. Dalam prosesnya, kegotong-royongan dan komunalitas bersandar, masyarakat meneguhkan nilai-nilai yang masih ada dan mengapresiasi leluhur.

Batagak Tonggak Tuo bukan hanya persoalan kayu menjadi tiang, lalu menjadi komponen utama rumah gadang. Tapi jauh lebih dari itu, di sela itu, para niniak mamak (pimpinan kaum atau suku) duduk bersela sama rendah, berpetatah petitih dalam rapat adat, melontarkan pidato adat, dan mengisyaratkan arti penting rumah gadang bagi eksistensi suatu kaum.

Siang itu, penghulu dari suku Panyalai Ammar Dt Basa Nan Tinggi, 56, menyampaikan pidato adat. Ia secara fasih melontar kan makna dan fungsi rumah gadang, serta berbagai jenis rumah gadang yang berdiri di Nagari Sumpur.

Dalam pidatonya, terselip banyak nasihat tentang adat dan tatanan sosial di Ranah Minang yang terpatri pada sebuah rumah gadang. Upaya konservasi Batagak Tonggak Tuo merupakan ihwal konservasi rumah gadang untuk menjadikan Sumpur warisan budaya, khususnya rumah gadang di Sumatra Barat. Ini juga berhubungan dengan terbakarnya 5 rumah gadang dari 68 rumah yang telah didata di kawasan tersebut.

Konservasi rumah gadang milik keluarga Etek Nuraini atau milik Rowenidar ini dimotori oleh Pusat Studi Konservasi Arsitektur (Pusaka) Universitas Bung Hatta (UBH) dan di dukung oleh Tirto Utomo Foundation, Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI), Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Yori Antar, Forum Kampuang Minang Nagari Sumpur dan Ikatan Keluarga Sumpur (IKES).

“Langkah nyata konservasi dilakukan dengan menegakkan Tunggak Tuo yang menjadi fondasi pembangunan Rumah Gadang,“ ujar ketua pelaksana Eko Alvares Z. dari Pusat Studi Konservasi Arsitektur Universitas Bung Hatta.

Eko mengatakan, semangat partisipatif dikedepankan dengan melibatkan masyarakat setempat dan mahasiswa. Dasarnya, riset yang mendalam terhadap rumahrumah gadang di masa lampau sebagai bahan referensi.

Rumah gadang sejatinya memiliki arti penting masih masyarakat Minangkabau.
Dibalik megahnya, silaturahim berkelindan antar keluarga inti sepuak (paruik). Tiap lini mengandung makna edukasi dalam tatanan sosial dan ekonomi. Bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ruang musyawarah.

Identitas komunal Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang, Nurmatias mengatakan s rumah gadang bukan hanya simbol entitas Minangkabau, tapi juga tempat mencari pengetahuan yang dibangun bersama-sama. “Kita berbeda dengan masyarakat Eropa yang membangun rumah sendiri-sendiri,“ ungkapnya.

Namun, ia sedih, maestro pembuat rumah gadang (tukang tuo) semakin susah ditemukan. Sebab itu, Nurmatias menganggap penting menjadikan pendirian rumah gadang sebagai menu pendidikan yang ditransformasikan ke generasi muda.
“Pembangunan rumah gadang ada sisisisi yang harus dipelajari. Misalnya memilih kayu, kapan memilih kayu yang baik, dan ada nilai-nilai atau falsafah yang dipelajari,“ tukasnya.
Konservasi rumah gadang dengan dana Rp1,2 miliar ini, sepenuhnya dikerjakan oleh masyarakat setempat. Rumah gadang yang dibangun bertipekan gajah maharam.

Selain gajah maharam, masih banyak tipe rumah gadang seperti pacerek, surambi papek aceh (rumah gadang pakai serambi di depannya), rumah baanjuang, dan rajo babandiang.
Rumah gadang gajah maharam (gajah mendekam) berlanjar empat, biasanya memakai enam gonjong. Ukirannya beragam tergantung permintaan pemilik. Sesuai namanya, rumah gadang adalah hunian besar yang di dalamnya ada ruang depan, ruang tengah, ruang anjungan, dan ruang belakang.

Ruang tengah, biasanya berjejer kamar yang diisi oleh suami istri dan anak gadis.
Sementara laki-laki Minang secara aturan adat, tidur di surau. Rumah gadang bentuknya tidak sistematis, mengembang ke atas untuk menangkis terpaan angin kencang, dan memiliki kandang atau tinggi lantai 2 meter dari atas tanah.

Rumah gadang suku Panyalai Sumpur yang dikonservasi memiliki panjang 17,2 meter, lebar 7,8 meter, tinggi total: 10,47. Kamar ada 6 unit dengan lebar 2,3 meter, panjang 3,9 meter. Tinggi dari tanah ke lantai di depan 1,8 meter dan belakang 2 meter.

Tukang tuo Novesman Dt. Bagindo Majolelo mengatakan kebutuhan kayu untuk mendirikan rumah gadang ini berjumlah 40 kubik. Pengerjaannya, sebut Novesman, berkisar sekitar enam bulan dengan melibatkan 15 orang tukang, dengan spesifikasi perkayuan.

“Rumah gadang ini memiliki 30 tiang (tingginya bervariasi). Paling tinggi 9,5 meter (tiang utama/ tonggak tua), paling rendah 5 meter (12 tiang)6,5 meter (12)sama tinggi tonggak tuo (5) tinggi 9,5 meter (sama dg tonggak tuo. Tonggak tuo, diameter 30 meter di bawah, di atas 20 meter,“ jelasnya.

Rumah gadang tersebut memiliki 5 ruang, dengan 4 gonjong. Dalam konstruksinya, rumah gadang ini tidak menggunakan paku, melainkan pasak sebagai pengunci antar tiang dan ring balok atau sluf.
Rumah gadang nantinya juga dibumbui oleh ukiran yang penuh makna dan dilengkapi oleh rangking (tempat penyimpanan padi atau pangan).

“Kekuatan utamanya adalah Rasuak Palanca (balok pengikat), sehingga sangat aman dari getaran gempa,“ tukasnya.

Rumah gadang di Jorong Nagari ada sekitar 35 unit, kebanyakan berusia ratusan tahun. Hal ini menjadi bekal untuk menjadi warisan pusaka dunia. Apalagi, Sumpur juga terletak di dekat Danau Singkarak, dan memiliki kawasan khas pedesaan.

Beragam kuliner khas seperti Kalio Gadang, Singgang, Pangek dan Gulai Padeh juga gampang ditemui di Sumpur. Dan silat minang serta khazanah adat dan budaya lainnya juga masih hidup.

Namun sangat disayangkan, sebagian rumah gadang tersebut dalam kondisi mengkhawatirkan; kayu dimakan rayap karena sudah menua dan terancam roboh. Malah sebagian rumah gadang kosong, merana, karena kebanyakan masyarakatnya merantau. (M-3) Media Indonesia, 04/05/2014, halaman : 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar