Membangun Harga Diri Umat Inspirasi dan Keteladanan Gubernur Harun Zain

Membangun Harga Diri Umat Inspirasi dan Keteladanan Gubernur Harun Zain
Oleh M. Fuad Nasar - Wakil Sekretaris Baznas

Setiap daerah di nusantara me miliki gubernur legendaris dan pejuang paripurna yang dikenang jasa-jasanya karena bernilai luar biasa. DKI Jakarta memiliki Gubernur Ali Sadikin. Jawa Timur memiliki Gubernur Mohammad Noor. Adapun Sumatera Barat yang melahirkan sekian banyak pejuang dan tokoh nasional di awal kemerdekaan memiliki Gubernur Harun Zain. Nama lengkapnya Prof. Drs. H. Sutan Harun Al-Rasyid Zain. Ia bukan sekadar gubernur, tetapi pemimpin inspiratif dan pembangkit harga diri umat Islam.

Pada awal menjabat, Harun Zain mengunjungi pemimpin Islam dan pejuang bangsa Mohammad Natsir di Jakarta. Pak Natsir memberi nasihat kepada Harun Zain, “Pandai-pandailah merangkuh dayung. “ Harun Zain melakukan revitalisasi peran ninik mamak dan alim ulama sebagai pemimpin informal yang sangat besar pengaruhnya di masyarakat.

Gubernur Harun Zain memberi sumbangan besar bagi kemajuan umat Islam. Ia menganjurkan seluruh jajaran pegawai pemerintah daerah dipotong gajinya untuk disumbangkan bagi pembangunan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina (YARSI) Sumatera Barat yang pertama di Bukittinggi. Menurut Harun Zain, keberadaan Rumah Sakit Islam akan bisa mengangkat martabat umat Islam.

Menarik dipelajari seni kepemimpinan putra asli Minang itu, “Dengan orang Minang harus bermusyawarah. Jangan main perintah! Sebab, orang Minang adalah orang yang merdeka dan punya harga diri yang tinggi. Orang Minang memandang dirinya sama dengan orang lain, duduk sama rendah tegak sama tinggi. Pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting.

Memimpin orang Minang berarti mengajaknya bermusyawarah. Bukan untuk sekedar mengucapkan ya saja. “ ungkapnya. Semasa menjabat gubernur, Harun Zain sering turun ke pelosok-pelosok nagari (desa). Menurut Ir. H. Azwar Anas, mantan Gubernur Sumbar yang menggantikan Harun Zain, kalau berkunjung ke desa-desa, Harun Zain membawa ala kadarnya bantuan untuk kebutuhan masyarakat, seperti sekodi atap seng, sekotak obat -obatan, sekian zak semen dan sebagainya.

Yang mengesankan kata Azwar Anas ¬ ialah “keikhlasan beliau.“
Sewaktu kunjungan ke Kabupaten Pasaman, ia bersedia berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai sebuah kampung terisolir karena tidak mau menolak permintaan masyarakat. “Baiklah, tapi berapa jauh ke sana. “ Mereka jawab “Tak jauh, Pak, hanya sebatang rokok perjalanan.“

Dalam kunjungan ke pedesaan, diadakan tatap muka dan tanya jawab dengan penduduk, baik acara resmi maupun kondisional. Mobil jeep BA 1 yang membawanya tanpa pengawalan voorijder bisa saja berhenti mendadak di pinggir sawah, lalu gubernur turun dan memanggil petani berdialog.

Harun Zain adalah pemimpin yang satu kata dengan perbuatan. Jika mengatakan anggaran terbatas, dia sendiri berhemat. Menghadiri suatu acara, Harun Zain takkan naik pesawat kalau bisa naik mobil. Tidak menginap di hotel kalau bisa menginap di rumah rekan atau tokoh urang awak. Demi menghemat biaya kalau berangkat ke Jakarta, Gubernur Harun Zain jarang membawa ajudan dan ia menenteng tas sendiri.

Sewaktu Menteri Dalam Negeri memberi uang Rp 6 juta untuk membeli kendaraan dinas gubernur, Mendagri berkata, “Beli saja Mercedes Benz 200 tidak apa-apa, toh ini bukan uang Daerah, ini kan uang pusat. “ Tapi Harun Zain keberatan karena budaya malu sebagai pemimpin sangat besar. “Rakyat kita belum berkeadaan, Pak. Bagaimana mungkin gubernurnya naik Mercy. Masalahnya bukan uang Pusat atau Daerah, tetapi apa kata orang nanti...“

Sebagai gubernur kepala daerah, Harun Zain tidak sekedar memperhatikan pembangunan sarana dan prasarana fisik dan perekonomian, tetapi mengembalikan kepercayaan diri dan harga diri orang Minang yang redup pasca pergolakan PRRI yang ditumpas pemerintah pusat dengan operasi militer. Pasca PRRI terjadi eksodus besar-besaran orang Minang pergi merantau. Orang enggan tinggal di kampung. Tapi Harun Zain bersedia pulang karena panggilan pengabdian. Ia bertugas sebagai dosen terbang dan kemudian Rektor Universitas Andalas (Unand) Padang. “Ketika semua orang lenyap, dia yang berdiri tegap“, kata budayawan almarhum A.A. Navis.

Pemimpin sederhana dan tidak korup itu tidak pernah memikirkan memperkaya diri. Setelah selesai jadi gubernur dan sebelum menjabat menteri, ia pindah ke Jakarta dan sempat menumpang di Wisma Perwakilan Sumatera Barat di Jln. Matraman Jakarta. Ia tidak punya rumah di Jakarta kecuali rumah warisan orangtuanya (almarhum Prof. Sutan Mohammad Zain).

Dalam Kabinet Pembangunan III (1978-1983) beliau menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Lulusan Fakultas Ekonomi UI dan University of California Berkeley USA itu sangat besar jasanya tidak saja bagi kemajuan daerah, tapi bagi pembangunan Indonesia. Harun Zain bukan seorang yang berpikir provinsialis, tetapi nasionalis sejati dalam kata dan perbuatan.

Harun Zain aktif sebagai Ketua Eksekutif Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang) periode pertama. Gebu Minang mempersatukan potensi orang Minang di rantau untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerahnya dalam semangat kemandirian (berdikari).

Gagasan yang mendorong lahirnya Gebu Minang berasal dari dialog spontan Presiden Soeharto pada acara Pekan Penghijauan Nasional 1982 di desa Aripan, Singkarak. Presiden mengadakan temu wicara dengan petani. Seorang petani meminta traktor dan alat-alat pertanian. “Kalian sebetulnya mempunyai kekuatan...“ jawab presiden.

Presiden Soeharto melontarkan tantangan kreatif mengingat besarnya potensi para perantau Minang. Jika sejuta perantau saja menyumbang Rp 1.000 per kepala, maka akan terkumpul dana sebesar Rp 1 Milyar. Bayangkan, orang Minang yang hidup di luar Sumatera Barat diperkirakan waktu itu antara 2,5 sampai 3 juta orang, maka tiap bulan akan terkumpul dana pembangunan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan Rp 12 milyar. Gagasan spontan almarhum Presiden Soeharto mengilhami lahirnya Gebu Minang, gerakan seribu rupiah dari perantau sebagai konsep alternatif pembangunan dari bawah yang diprakarsai masyarakat sendiri dan untuk masyarakat.

Sosok panutan Harun Zain gelar Datuk Sinaro akan tinggal kenangan. Tokoh yang dilahirkan 1 Maret 1927 itu wafat Ahad 19 Oktober 2014 dalam usia 87 tahun di Jakarta. Harun Zain adalah eks Tentara Pelajar Republik Indonesia (TRIP) yang berjuang di Jawa Timur. Jenazah penerima Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputera Adipradana itu dimakamkan di TMP Kalibata dengan upacara militer.

 “Penghormatan ini sangat layak untuk Bung Harun“ ungkap Prof. Dr. Emil Salim dalam sambutan di pemakaman Ahad siang (19/10). Jasa Bung Harun akan tetap tersimpan di hati orang Minang ¬ kata Emil Salim ¬ yaitu “membangkit batang tarandam“ supaya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan suku dan provinsi lain di Indonesia. Semoga almarhum mendapat tempat kembali yang mulia di sisi Allah. Media Indonesia, 3/11/2014, halaman 15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar